laporan praktikum budidaya tanaman bawang merah


LAPORAN LENGKAP

PRAKTEK INTEGRASI TANAMAN

 

 

 

 

KELOMPOK 25



 

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2020

LAPORAN LENGKAP

PRAKTEK INTEGRASI TANAMAN

 

 

 

 

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk

Menyelesaikan Matakuliah

di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako

Oleh

RAHMAT RIZAL EFENDI               E 281 18 243

WIWIN PUTRI WULANDARI  E 281 18 292

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2020

RINGKASAN

Kelompok 25 Laporan Lengkap Praktek Integrasi Tanaman Di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako Palu

            Budidaya tanaman adalah suatu proses menghasilkan bahan pangan dan berbagai produk agroindustri lainnya dengan memanfaatkan sumberdaya tumbuhan. Yang menjadi objek budidaya tanaman ini antara lain tanaman hortikultura, tanaman pangan dan tanaman perkebunan.

            Bawang merah ( Allium cepa L.) adalah salah satu bumbu masak utama dunia yang berasal dari Iran, Pakistan, dan penggunungan-pegunungan disebelah utaranya, tetapi kemudian menyebar ke berbagaipenjuru dunia, baik sub-tropis maupun tropis. Wujudnya berupa umbi yang dapat dimakan mentah, untuk bumbu masak, acar, obat tradisional, kulit umbinya dapat menjadikan zat pewarna dan daunnya dapat pula digunakan untuk campuran sayur.

            Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanamn atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik.

            Pupuk kascing adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran cacing atau bekas cacing sudah difermentasi langsung oleh cacing itu sendiri. Pupuk ini memiliki tekstur yang halus seperti pasir, berwarna hitam, homogen, tidak berbau dan ringan.

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan Rahmat dan Hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan ini dengan  judul “Laporan Lengkap Praktek Integrasi Tanaman’. Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelsaikan matakuliah Budidaya Tanaman.

Selama Pelaksanaan praktikum ini penulis banyak mendapat arahan, bimbingan, saran serta dorongan dari berbagai pihak sehingga pelaksanaan praktikum dan penulisan laporan ini dapat terseleaikan dengan baik dan benar. Oleh karenanya, dengan kerendahan hati penyusun ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1.        Dr. Ir. H. Usman Made, MP. Selaku dosen penanggung jawab praktikum matakuliah Budidaya Tanaman.

2.        Usman Yulianto, SP. Selaku asisten penanggung jawab praktikum matakuliah Budidaya Tanaman.

3.        Usman Yulianto, SP. Selaku asisten pendamping praktikum matakuliah Budidaya Tanaman.

 

 

Palu, April 2020

 

                                                                                                                                                Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman yang termasuk dalam famili liliceae yang berasal dari Asia Tenggara dan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sering digunakan sebagai penyedap masakan. Selain itu, bawang merah juga mengandung gizi dan senyawa enzim yang baik untuk kesehatan manusia. Minyak atsiri yang terkandung didalam bawang merah berfungsi untuk produk kecantikan dan perawatan tubuh, menurunkan demam, perawatan rambut, dan sebagai bahan untuk pijat dan terapi. Bahan aktif minyak atsiri bawang merah terdiri dari Sikloaliin, Metilaliin, Kaemferol, Kuersetin, dan Floroglusin (Muhlizah dan Hening, 2015). Bawang merah mempunyai prospek pasar yang baik sehingga termasuk dalam komoditas unggulan nasional, karena sebagian besar masyarakat indonesia mebutuhkan terutama untuk bumbu masak sehari-hari sehingga mempengaruhi makro ekonomi dan tingkat inflasi Handayani, (2014).

Tanaman bawang merah diduga berasal dari Asia Tengah, terutama Palestina dan India, tetapi sebagian lagi memperkirakan asalnya dari Asia Tenggara dan Mediteranian. Pendapat lain menyatakan bawang merah berasal dari Iran dan pegunungan sebelah Utara Pakistan, namun ada juga yang menyebutkan bahwa tanaman ini berasal dari Asia Barat, yang kemudian berkembang ke Mesir dan Turki (Wibowo, 2015). 

Pemupukan merupakan salah satu faktor penentu dalam upaya meningkatkan hasil tanaman. Pupuk yang digunakan sesuai anjuran diharapkan dapat memberikan hasil yang secara ekonomis menguntungkan. Dengan demikian, dampak yang diharapkan dari pemupukan tidak hanya meningkatkan hasil per satuan luas tetapi juga efisien dalam penggunaan pupuk. Hal ini, mengingat penggunaan pupuk di tingkat petani cukup tinggi, sehingga dapat menimbulkan masalah terutama defisiensi unsur hara mikro, pemadatan tanah, dan pencemaran lingkungan (Bangun et al. 2016).

 

1.2       Tujuan

            Tujuan dilaksanakannya praktikum budidaya tanaman adalah agar mahasiswa mampu mengetahui cara atau metode budidaya pertanian yang baik dan benar dan teknik apa saja yang tepat dalam sistem budidaya pertanian pada tiap tanaman. Selain itu, praktikum ini juga berfungsi untuk mengetahui jenis pupuk dan pemberian dosis yang baik dan tepat pada tiap tanaman agar didapatkan pertumbuhan dan hasil tanaman yang optimum.

1.3       Manfaat

            Manfaat dari praktikum budidaya tanaman yaitu mahasiswa diharapkan mampu menentukan teknik budidaya yang tepat terhadap suatu komoditas tanaman sehingga didapatkan hasil yang optimum dari tanaman tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Landasan Teori

2.1.1    Klasifikasi dan Botani Tanaman Bawang Merah (Alliun cepa)

            Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) termasuk family Liliaceae dan sistimatika klasifikasinya secara rinci sebagai berikut :

Kingdom: Plantae

Divisi      : Spematophyta

Kelas       : Monocotyledonal

Ordo        : Liliaceae

Famili      : Liliaceae

Genus      : Allium

Spesies     : Allium cepa var. Ascalonicum

            Bawang Merah (Allium cepa var. ascalonicum) merupakan sayuran umbi yang cukup populer di kalangan masyarakat, selain nilai ekonomisnya yang tinggi, bawang merah juga berfungsi sebagai penyedap rasa dan dapat juga digunakan ebagai bahan obat tradisional atau bahan baku farmasi lainnya.


          Struktur morfologi tanaman bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) terdiri atas akar, batang, umbi, daun, bunga, dan biji. Tanaman bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) termasuk tanaman semusim ( annual), berumbi lapis, berakar serabut, berdaun silindris seperti pipa, memiliki batang sejati (diskus) yang berbentuk sperti cakram, tipis dan pendek sebagai tempat melekatnya perakaran dan mata tunas (titik tumbuh) ( Rukmana, 2017).

2.1.2    Syarat Tumbuh Tanaman Bawang Merah (Allium cepa)

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk budidaya tanaman bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) antara lain adalah iklim meliputi ketinggian tempat, suhu udara yang cukup hangat, angin, curah hujan, intensitas sinar matahari, dan kelembaban nisbi. Faktor lain yang juga sangat penting di perhatikan adalah faktor tanah, meliputi keadaan fisik dan kimia tanahnya (Erythrina. 2017).

Menurut Rismunandar (1986) dalam Sumarni dan Hidayat (2015) dikatakan bahwa tanaman bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) lebih senang tumbuh di daerah beriklim kering. Tanaman bawang merah peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, serta cuaca berkabut. Tanaman ini membutuhkan penyinaran cahaya matahari yang maksimal (minimal 70% penyinaran), suhu udara 25-32°C, dan kelembaban nisbi 50-70%              (Sumarni dan Hidayat, 2005). Tanaman bawang merah dapat membentuk umbi di daerah yang suhu udaranya rata-rata 22°C, tetapi hasil umbinya tidak sebaik di daerah yang suhu udara lebih panas. Bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) akan membentuk umbi lebih besar bilamana ditanam di daerah dengan penyinaran lebih dari 12 jam. Di bawah suhu udara 22°C tanaman bawang merah tidak akan berumbi. Oleh karena itu, tanaman bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) lebih menyukai tumbuh di dataran rendah dengan iklim yang cerah.

Di Indonesia bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Ketinggian tempat yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan bawang merah adalah 0-450 m di atas permukaan laut (Sutarya dan Grubben 2015). Tanaman bawang merah masih dapat tumbuh dan berumbi di dataran tinggi, tetapi umur tanamnya menjadi lebih panjang 0,5-1 bulan dan hasil umbinya lebih rendah.

2.1.3    Pupuk dan Pemupukan

Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun an-organik (mineral). Pupuk adalah suatu bahan yang bersifat organik maupun an-organik, apabiladitambahkan kedalam tanah atau tanaman maka dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah dan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Secara umum, pupuk digolongkan menjadi dua yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Menurut jumlah unsur yang terkandung dalam pupuk maka pupuk dapat digolongkan menjadi pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal yaitu pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur pupuk, sedangkan pupuk majemuk yaitu pupuk yang mengandung beberapa unsur. Berdasarkan jumlah hara yang dibutuhkan tanaman, pupuk dapat digolongkan menjadi pupuk hara makro (yang dibutuhyan dalam jumlah besar) dana pupuk hara mikro (yang dibutuhkan dalam jumlah kecil). Pupuk hara makro yaitu pupuk yang mengandung unsur hara makro (seperti N, P, dan K) yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar. Pupuk hara mikro yaitu pupuk yang terutama mengandung unsur-unsur mikro (seperti Mo, Fe, dan Zn) yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil (Agus Lina, 2015). 

BAB III

METODE PRAKTEK

3.1       Tempat dan Waktu

            Praktikum integrasi matakuliah budidaya tanaman dilaksanakan dikebun akademik Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. Praktikum dilaksanakan pada setiap hari sabtu dimulai pada tanggal 15 Februari sampai tanggal 2 Mei 2020, pukul 07.30 sampai pukul 10.00 WITA. Tetapi praktikum dilaksanakan tidak sampai selesai dikarenakan wabah covid-19 yang menyebar diseluruh dunia hingga kampus terpaksa ditutup untuk sementara waktu.

3.2       Alat dan Bahan

            Alat yang digunakan pada praktikum integrasi mata kuliah budidaya tanaman  ini yaitu Alat tulis menulis, meter, ember, cangkul, sekop dan karung.

Bahan yang digunakan pada praktikum integrasi mata kuliah budidaya tanaman yaitu benih bawang merah (Allium cepa), pupuk kandang sapi, pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing, pupuk kascing dan pupuk NPK.

3.3       Cara Kerja


            Pertama membersihkan lahan budidaya dan gulma dengan menggunakan parang atau sabit, kemudian menggemburkan tanah menggunakan cangkul atau sekop agar tekstur tanah yang padat bisa gembur kembali, kemudian menaburkan pupuk kandang kascing dengan ukuran 3 kg/bedengan dengan panjang dan luas bedengan 2 x 1 cm, kemudian mengaduk tanah dan pupuk kandang agar tercampur rata. Kemudian ratakan tananah yang telah digemburkan dan membuat draenase untuk tempat air mengalir. Kemudian membuat jarak tanam pada bedengan yang telah siap, setelah itu membasahi atau menyiram bedengan sebelum benih bawang merah ditanam. Setelah selesai, tanamlah benih bawang merah yang telah siap untuk ditanam. 


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Komponen Tumbuh

4.1.1    Tinggi Tanaman

            Adapun hasil yang diperoleh dari pengamatan tinggi tanaman bawang merah (Allium cepa) adalah sebagai berikut :

Tabel. 1 Tinggi Tanaman

NO

KELOMPOK

TINGGI TANAMAN

RATA-RATA

1

2

3

1

20

27

34

35,67

32,22

2

21

18,83

21,66

26,5

22,33

3

22

29,5

33,9

36,5

33,33

4

23

24,6

29

32,58

28,72

5

24

7,16

19,91

22,5

16,52

6

25

33,83

38,93

42,83

38,53

7

26

30,5

32,5

36,3

33,1

8

27

25,83

32

32,5

30,11

9

28

24,81

31,0

34,96

30,25

10

29

24,96

29,58

31,33

28,62

11

30

25,66

29,45

32,6

29,23

12

31

24,66

26,83

29,33

26,94

RATA-RATA

 

 

 

29,158

 


                Dari hasil pengamatan tinggi tanaman bawang merah (Allium cepa L.) diperoleh hasil yaitu pada kelompok 20 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 32,22, untuk kelompok 21 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 22,33, untuk kelompok 22 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 33,33, untuk kelompok 23 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 28,72, untuk kelompok 24 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 16,52, untuk kelompok 25 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 38,53, untuk kelompok 26 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 33,1, untuk kelompok 27 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 30,11, untuk kelompok 28 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 30,25, untuk kelompok 29 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 28,62, untuk kelompok 30 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 29,23, dan pada kelompok 31 dengan 3 kali pengamatan memiliki rata – rata sebesar 26,94. Dilihat dari keselurahan hasil pengamatan memiliki jumlah rata – rata paling besar terdapat pada kelompok 25. Untuk jumlah rata – rata keseluruhan kelompok 20 sampai 31 sebesar 29,158.

Akar menyerap air dan unsur hara ke daun menjadi karbohidrat yang akan ditranslokasikan ke bagian tanaman sebagai cadangan makanan dan energi yang diperlukan sel untuk melakukan aktivitas seperti pembelahan dan pembesaran sel yang berakibat pada pertambahan tinggi tanaman. Hakim et al. (2016) menyatakan bahwa terjadinya pertumbuhan tinggi tanaman karena adanya peristiwa pembelahan dan perpanjangan sel.

Kascing termasuk ke dalam bahan organik yang dapat digunakan sebagai pupuk untuk meningkatkan produksi tanaman (Sudirja et al., 2015). Kascing mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur makro maupun mikro serta mengandung hormon giberelin, sitokinin dan auksin yang berguna bagi pertumbuhan tanaman (Tambunan et al., 2014). Pemberian kascing sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk organik kascing memiliki unsur hara lengkap namun lambat tersedia bagi tanaman (Sembiring et al., 2017). Penggunaan pupuk anorganik unsur haranya cepat tersedia dan mudah larut, unsur yang sangat berperan dalam pertumbuhan tanaman bawang merah adalah unsur Fosfor (P).

Kascing mengandung asam humat dimana merupakan hasil akhir proses dekomposisi bahan organik yang terdiri dari zat organik, disamping itu juga memiliki struktur molekul komplek yang mengandung gugus aktif sehingga mampu untuk menstimulasi dan mengaktifkan proses biologi pada organisme hidup dalam tanah. Sehingga tanaman bawang merah mampu menyerap nutrisi dalam tanah dan merubahnya menjadi bahan dalam bentuk tersedia bagi tanaman melalui proses fotosintesis.

Pupuk kascing juga dapat berperan memperbaiki sifat kimia tanah seperti meningkatkan pH tanah, rasio C/N, KTK dan menyediakan unsur hara makro maupun mikro yang dibutuhkan tanaman bawang merah. Kascing berperan terhadap sejumlah reaksi kimia di dalam tanah yang meningkatan KTK sehingga berdampak pada kesuburan tanah (Mulat, 2015). Kascing juga mengandung berbagai bahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman seperti hormon giberilin, sitokinin dan auxin (Tambunan et al., 2014). Menurut Harjadi (2009) auksin dapat memacu perpanjangan sel sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan batang. Menurut Bey et al. (2016) giberelin dapat meningkatkan pertambahan tinggi tanaman dan merangsang pemanjangan batang dan pembelahan sel. 

4.1.2    Jumlah Daun

Adapun hasil yang diperoleh dari pengamatan jumlah daun pada Bawang merah (Allium cepa) yaitu sebagai berikut :

Tabel 2. Jumlah Daun

NO

KELOMPOK

JUMLAH DAUN

RATA-RATA

1

2

3

1

20

16

22,4

26,8

21,33

2

21

7,5

21,66

27,66

18,94

3

22

18,8

31,3

36,3

28,8

4

23

14,3

15,83

21,83

17,32

5

24

4,91

14,33

18,5

12,58

6

25

27

38,5

52,5

39,33

7

26

18,83

25,5

28,6

24,31

8

27

17,67

23,33

25,16

22,53

9

28

17,0

22,5

27,8

22,43

10

29

22,83

28,83

37,66

29,77

11

30

19

27,5

32,5

26,33

12

31

22,5

30

35,16

29,22

RATA-RATA

 

 

 

24,407

 

Dari hasil pengamatan jumlah daun tanaman bawang merah (Allium cepa L.) diperoleh hasil yaitu pada kelompok 20 jumlah daun rata – rata nya sebesar 21,33, untuk kelompok 21 jumlah rata – rata nya adalah 18,94, untuk kelompok 22 jumlah rata – rata nya adalah 28,8, untuk kelompok 23 jumlah rata – rata nya adalah 17,32, untuk kelompok 24 jumlah rata – rata nya adalah 12,58, untuk kelompok 25 jumlah rata – rata nya adalah 39,33, untuk kelompok 26 jumlah rata – rata nya adalah 24,31, untuk kelompok 27 jumlah rata – rata nya adalah 22,53, untuk kelompok 28 jumlah rata – rata nya adalah 22,43, untuk kelompok 29 jumlah rata – rata nya adalah 29,77, untuk kelompok 30 jumlah rata – rata nya adalah 26,33, untuk kelompok 31 jumlah rata – rata nya adalah 29,22. Untuk jumlah keseluruhan daun rata – rata yaitu 24,407.

Riandi et al. (2016) bahwa salah satu yang menyebabkan bertambahnya jumlah daun pada tanaman adalah adanya kecukupan suplay hara ke dalam tanaman tersebut.

Unsur hara yang tersedia dari pemberian pupuk kascing meningkatkan laju fotosintesis. Peningkatan laju fotosintesis akan meningkatkan fotosintat dihasilkan sebagai bahan pembentukan organ tanaman. Prawiranata et al. (2015) menyatakan bahwa peningkatan laju fotosintesis akan diiringi dengan peningkatan jumlah daun.

Pemberian pupuk kascing tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata antar perlakuan pada tanaman bawang merah. Hal ini diduga karena unsur hara yang tersedia di dalam tanah telah tercukupi untuk pertumbuhan tanaman bawang merah khususnya pada bagian jumlah daun dan dengan penambahan kascing sebagai bahan organik tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah daun per rumpun.

        Semakin tinggi dosis pupuk yang digunakan maka akan semakin besar kontribusinya dalam menyediakan hara yang dibutuhkan dalam proses fisiologi tanaman tetapi jika pupuk diberikan secara berlebihan memberikan dampak serius bagi tanah dan tanaman. Ernawati et al. (2015) penggunaan pupuk jika tidak berimbang dapat menyebabkan ketidak-seimbangan hara dalam tanah, jumlah hara yang diserap tanaman, penurunan produksi, dan kualitas hasil.

Penambahan bahan organik berupa pupuk kascing dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara seperti unsur N yang membantu dalam meningkatkan klorofil daun sehingga meningkatkan laju fotosintesis dan menghasilkan fotosintat yang lebih banyak untuk ditranslokasikan ke organ penyimpan termasuk umbi dan akhirnya berpengaruh terhadap pembentukan umbi bawang merah. Napitupulu dan Winarto (2016) menyatakan bahwa nitrogen berperan dalam meningkatkan sintesis protein dan pembentukan klorofil daun serta meningkatkan laju fotosintesis dan hasil fotosintat. Hasil penelititan Ihsan et al. (2016) menyatakan bahwa untuk mendapatkan pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) yang baik disarankan menggunakan pupuk kascing dengan dosis 15 ton/Ha, Pada parameter berat umbi segar per rumpun menghasilkan produksi tertinggi mencapai 46,70 g.

Pupuk yang diberikan pada tanaman akan memberikan pengaruh yang baik jika diiringi dengan pengaturan jarak tanam yang tepat. Menurut Rahayu dan Berlian (2007), jarak tanam yang terlalu rapat atau tingkat kepadatan populasi yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya kompetisi antar tanaman terhadap faktor tumbuh seperti air, unsur hara, cahaya dan ruang tumbuh, sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Hasil penelitian Deviana et al. (2014) produksi umbi bawang merah paling tinggi dihasilkan pada jarak tanam 10 cm x 15 cm yaitu 10.68 ton/Ha.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1       Kesimpulan

            Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman yang termasuk dalam famili liliceae yang berasal dari Asia Tenggara dan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sering digunakan sebagai penyedap masakan. Selain itu, bawang merah juga mengandung gizi dan senyawa enzim yang baik untuk kesehatan manusia. Kascing termasuk ke dalam bahan organik yang dapat digunakan sebagai pupuk untuk meningkatkan produksi tanaman. Kascing mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur makro maupun mikro serta mengandung hormon giberelin, sitokinin dan auksin yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Pemberian kascing sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

5.2       Saran

            Agar kiranya pada praktikum mendatang, praktikan bisa lebih baik lagi kedepannya dan semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Lina, 2015. Pedoman Bertanam Bawang, Kanisius, Yogyakarta. Hlm 18. BPPT, 2007 . Teknologi budidaya Tanaman Pangan.

Bangun, F. 2016. Analisis Pertumbuhan dan produksi Beberapa varietas Bawang merah terhadap Pemberian Pupuk Organik dan anorganik. Universitas sumatera Utara.medan.

Bangun, E., M. Nur, H.I., F.H. Silalahi, dan J. Ali. 2016. Pengkajian Teknologi Pemupukan Bawang Merah di Sumatera Utara. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Spesifik Lokasi Menuju Desentralisasi Pembangunan Pertanian. 13-14 Maret 2000. Medan. Hlm. 338-342.

Bey, Y., W. Syafii dan Sutrisna. 2016. Pengaruh pemberian giberelin (ga3) dan air kelapa terhadap perkecambahan biji anggrek bulan (Phalaenopsis ambilis BL.) secara in vitro. Jurnal Biogenesis. 2(2): 41-46.

Ernawati, R., I. D. Hasanah dan Agusni. 2015. Pengaruh pemberian pupuk NPK multiorganik pada tiga kultivar cabai merah. Prosiding Konggres Nasional HITI VII. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. 793-800.

Erythrina. 2017. Perbenihan dan budidaya bawang merah. Balai besar pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian (BBP2TP). Bogor.

 

Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, Sutopo, G. N., M. R. Saul, M. A. Diha, G. B. Hong dan H. Bailey. 2016. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Handayani SA. 2014. Optimalisasi Pengelolaan Lahan untuk Sayuran Unggulan Nasional. Julianto, editor. Tabloid Sinar Tani Senin 28 April 2014 [Internet].[Waktu dan tempat pertemuan tidak diketahui]. Jakarta (ID): Sinartani. [diunduh 2014 Nov 12].

Harjadi, S. S. 2009. Zat Pengatur Tumbuhan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Mulat, T. 2015. Membuat dan Memanfaatkan Kascing Pupuk Organik Berkualitas. Agromedia. Jakarta.


Prawiranata, W.S. Harran dan P. Tjondronegoro. 2015. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan II. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Riandi, O., Armaini dan E. Anom. 2016. Aplikasi Pupuk N, P, K Dan Mineral Zeolit pada Medium Tumbuh Tanaman Rosella (Hibisccus sabdariffa, L). Skripsi (Tidak dipublikasikan). Universitas Riau. Pekanbaru.

Rukmana, R.,(2017), Bawang Merah Dari Biji, Penerbit Aneka Ilmu, Semarang.

Sembiring, N., B.S.J. Damanik dan J. Ginting. 2017. Tanggap pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.) varietas kuning terhadap pemberian kompos kascing dan pupuk NPK. Jurnal Online Agroteknologi. 2(1): 266-278.

Sudirja, R., M. A. Solihin dan S. Rosniawaty. 2005. Pengaruh Kompos Kulit Buah Kakao dan Kascing terhadap Perbaikan Beberapa Sifat Kimia Fluventic Eutruddepts. Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran, Jatinangor.

Sumarni, N. dan Hidayat A. 2015. Budidaya Bawang merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Jakarta Selatan.

Sutarya R dan Grubben G. 2015. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. Gadjah Mada University Press (ID). Prosea Indonesia – Balai Penelitian Hortikultura Lembang.

Tambunan, W.A., R. Sipayung dan F.E. Sitepu. 2014. Pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.) dengan pemberian pupuk hayati pada berbagai media tanam. Jurnal Online Agroteknologi. 2(2): 825-836.

Wibowo ,S. 2015. Budidaya Bawang Merah. Penebar Swadaya. Jakarta. 212 Hlm.

Komentar

Postingan populer dari blog ini