laporan praktikum budidaya tanaman bawang merah
LAPORAN
LENGKAP
PRAKTEK INTEGRASI TANAMAN
KELOMPOK 25
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
TADULAKO
PALU
2020
LAPORAN
LENGKAP
PRAKTEK
INTEGRASI TANAMAN
Disusun
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Menyelesaikan
Matakuliah
di
Fakultas Pertanian Universitas Tadulako
Oleh
RAHMAT RIZAL EFENDI E 281 18 243
WIWIN PUTRI WULANDARI E 281
18 292
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
TADULAKO
PALU
2020
RINGKASAN
Kelompok 25 Laporan Lengkap Praktek
Integrasi Tanaman Di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako Palu
Budidaya tanaman
adalah suatu proses menghasilkan bahan pangan dan berbagai produk agroindustri
lainnya dengan memanfaatkan sumberdaya tumbuhan. Yang menjadi objek budidaya
tanaman ini antara lain tanaman hortikultura, tanaman pangan dan tanaman
perkebunan.
Bawang
merah ( Allium cepa L.) adalah salah
satu bumbu masak utama dunia yang berasal dari Iran, Pakistan, dan
penggunungan-pegunungan disebelah utaranya, tetapi kemudian menyebar ke
berbagaipenjuru dunia, baik sub-tropis maupun tropis. Wujudnya berupa umbi yang
dapat dimakan mentah, untuk bumbu masak, acar, obat tradisional, kulit umbinya
dapat menjadikan zat pewarna dan daunnya dapat pula digunakan untuk campuran
sayur.
Pupuk
adalah material yang ditambahkan pada media tanamn atau tanaman untuk mencukupi
kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik.
Pupuk kascing adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran cacing atau bekas cacing sudah difermentasi langsung oleh cacing itu sendiri. Pupuk ini memiliki tekstur yang halus seperti pasir, berwarna hitam, homogen, tidak berbau dan ringan.
KATA
PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan Rahmat dan Hidayahnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan ini dengan judul “Laporan Lengkap Praktek Integrasi
Tanaman’. Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelsaikan
matakuliah Budidaya Tanaman.
Selama Pelaksanaan
praktikum ini penulis banyak mendapat arahan, bimbingan, saran serta dorongan
dari berbagai pihak sehingga pelaksanaan praktikum dan penulisan laporan ini
dapat terseleaikan dengan baik dan benar. Oleh karenanya, dengan kerendahan
hati penyusun ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.
Dr.
Ir. H. Usman Made, MP. Selaku dosen penanggung jawab
praktikum matakuliah Budidaya Tanaman.
2.
Usman
Yulianto, SP. Selaku asisten penanggung jawab praktikum
matakuliah Budidaya Tanaman.
3.
Usman
Yulianto, SP. Selaku asisten pendamping praktikum
matakuliah Budidaya Tanaman.
Palu, April 2020
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah
tanaman yang termasuk dalam famili liliceae yang berasal dari Asia Tenggara dan
merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sering digunakan sebagai
penyedap masakan. Selain itu, bawang merah juga mengandung gizi dan senyawa
enzim yang baik untuk kesehatan manusia. Minyak atsiri yang terkandung didalam
bawang merah berfungsi untuk produk kecantikan dan perawatan tubuh, menurunkan
demam, perawatan rambut, dan sebagai bahan untuk pijat dan terapi. Bahan aktif
minyak atsiri bawang merah terdiri dari Sikloaliin, Metilaliin, Kaemferol,
Kuersetin, dan Floroglusin (Muhlizah dan Hening, 2015). Bawang merah mempunyai
prospek pasar yang baik sehingga termasuk dalam komoditas unggulan nasional,
karena sebagian besar masyarakat indonesia mebutuhkan terutama untuk bumbu
masak sehari-hari sehingga mempengaruhi makro ekonomi dan tingkat inflasi
Handayani, (2014).
Tanaman bawang merah diduga berasal dari Asia Tengah, terutama Palestina dan India,
tetapi sebagian lagi memperkirakan asalnya dari Asia Tenggara dan Mediteranian.
Pendapat lain menyatakan bawang merah berasal dari Iran dan pegunungan sebelah
Utara Pakistan, namun ada juga yang menyebutkan bahwa tanaman ini berasal dari
Asia Barat, yang kemudian berkembang ke Mesir dan Turki (Wibowo, 2015).
Pemupukan merupakan salah satu faktor
penentu dalam upaya meningkatkan hasil tanaman. Pupuk yang digunakan sesuai
anjuran diharapkan dapat memberikan hasil yang secara ekonomis menguntungkan.
Dengan demikian, dampak yang diharapkan dari pemupukan tidak hanya meningkatkan
hasil per satuan luas tetapi juga efisien dalam penggunaan pupuk. Hal ini,
mengingat penggunaan pupuk di tingkat petani cukup tinggi, sehingga dapat
menimbulkan masalah terutama defisiensi unsur hara mikro, pemadatan tanah, dan
pencemaran lingkungan (Bangun et al. 2016).
1.2 Tujuan
Tujuan dilaksanakannya praktikum
budidaya tanaman adalah agar mahasiswa mampu mengetahui cara atau metode
budidaya pertanian yang baik dan benar dan teknik apa saja yang tepat dalam
sistem budidaya pertanian pada tiap tanaman. Selain itu, praktikum ini juga
berfungsi untuk mengetahui jenis pupuk dan pemberian dosis yang baik dan tepat
pada tiap tanaman agar didapatkan pertumbuhan dan hasil tanaman yang optimum.
1.3 Manfaat
Manfaat dari praktikum budidaya tanaman yaitu mahasiswa diharapkan mampu menentukan teknik budidaya yang tepat terhadap suatu komoditas tanaman sehingga didapatkan hasil yang optimum dari tanaman tersebut.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Klasifikasi dan Botani Tanaman Bawang Merah
(Alliun cepa)
Bawang Merah (Allium cepa
var. ascalonicum) termasuk family Liliaceae dan sistimatika
klasifikasinya secara rinci sebagai berikut :
Kingdom: Plantae
Divisi :
Spematophyta
Kelas : Monocotyledonal
Ordo : Liliaceae
Famili :
Liliaceae
Genus :
Allium
Spesies : Allium cepa var. Ascalonicum
Bawang
Merah (Allium cepa var. ascalonicum) merupakan sayuran umbi yang
cukup populer di kalangan masyarakat, selain nilai ekonomisnya yang tinggi,
bawang merah juga berfungsi sebagai penyedap rasa dan dapat juga digunakan
ebagai bahan obat tradisional atau bahan baku farmasi lainnya.
Struktur morfologi tanaman bawang merah (Allium
cepa var. ascalonicum) terdiri atas akar, batang, umbi, daun, bunga,
dan biji. Tanaman bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum)
termasuk tanaman semusim ( annual), berumbi lapis, berakar serabut,
berdaun silindris seperti pipa, memiliki batang sejati (diskus) yang
berbentuk sperti cakram, tipis dan pendek sebagai tempat melekatnya perakaran
dan mata tunas (titik tumbuh) ( Rukmana, 2017).
2.1.2 Syarat Tumbuh Tanaman Bawang Merah (Allium
cepa)
Hal-hal yang harus
diperhatikan untuk budidaya tanaman bawang merah (Allium cepa var.
ascalonicum) antara lain adalah iklim meliputi ketinggian tempat, suhu
udara yang cukup hangat, angin, curah hujan, intensitas sinar matahari, dan
kelembaban nisbi. Faktor lain yang juga sangat penting di perhatikan adalah
faktor tanah, meliputi keadaan fisik dan kimia tanahnya (Erythrina. 2017).
Menurut
Rismunandar (1986) dalam Sumarni dan Hidayat (2015) dikatakan bahwa
tanaman bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) lebih senang
tumbuh di daerah beriklim kering. Tanaman bawang merah peka terhadap curah
hujan dan intensitas hujan yang tinggi, serta cuaca berkabut. Tanaman ini
membutuhkan penyinaran cahaya matahari yang maksimal (minimal 70% penyinaran),
suhu udara 25-32°C, dan kelembaban nisbi 50-70% (Sumarni dan Hidayat, 2005).
Tanaman bawang merah dapat membentuk umbi di daerah yang suhu udaranya
rata-rata 22°C, tetapi hasil umbinya tidak sebaik di daerah yang suhu udara
lebih panas. Bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) akan
membentuk umbi lebih besar bilamana ditanam di daerah dengan penyinaran lebih
dari 12 jam. Di bawah suhu udara 22°C tanaman bawang merah tidak akan berumbi.
Oleh karena itu, tanaman bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum)
lebih menyukai tumbuh di dataran rendah dengan iklim yang cerah.
Di Indonesia bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Ketinggian tempat yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan bawang merah adalah 0-450 m di atas permukaan laut (Sutarya dan Grubben 2015). Tanaman bawang merah masih dapat tumbuh dan berumbi di dataran tinggi, tetapi umur tanamnya menjadi lebih panjang 0,5-1 bulan dan hasil umbinya lebih rendah.
2.1.3 Pupuk dan Pemupukan
Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun an-organik (mineral). Pupuk adalah suatu bahan yang bersifat organik maupun an-organik, apabiladitambahkan kedalam tanah atau tanaman maka dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah dan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Secara umum, pupuk digolongkan menjadi dua yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Menurut jumlah unsur yang terkandung dalam pupuk maka pupuk dapat digolongkan menjadi pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal yaitu pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur pupuk, sedangkan pupuk majemuk yaitu pupuk yang mengandung beberapa unsur. Berdasarkan jumlah hara yang dibutuhkan tanaman, pupuk dapat digolongkan menjadi pupuk hara makro (yang dibutuhyan dalam jumlah besar) dana pupuk hara mikro (yang dibutuhkan dalam jumlah kecil). Pupuk hara makro yaitu pupuk yang mengandung unsur hara makro (seperti N, P, dan K) yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar. Pupuk hara mikro yaitu pupuk yang terutama mengandung unsur-unsur mikro (seperti Mo, Fe, dan Zn) yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil (Agus Lina, 2015).
BAB
III
METODE PRAKTEK
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum integrasi matakuliah budidaya tanaman
dilaksanakan dikebun akademik Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.
Praktikum dilaksanakan pada setiap hari sabtu dimulai pada tanggal 15 Februari
sampai tanggal 2 Mei 2020, pukul 07.30 sampai pukul 10.00 WITA. Tetapi
praktikum dilaksanakan tidak sampai selesai dikarenakan wabah covid-19 yang
menyebar diseluruh dunia hingga kampus terpaksa ditutup untuk sementara waktu.
3.2 Alat dan
Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum integrasi mata kuliah budidaya tanaman ini yaitu Alat tulis menulis, meter, ember,
cangkul, sekop dan karung.
Bahan yang digunakan pada praktikum integrasi mata kuliah budidaya tanaman yaitu benih bawang
merah (Allium cepa), pupuk kandang
sapi, pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing, pupuk kascing dan pupuk NPK.
3.3 Cara Kerja
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Komponen Tumbuh
4.1.1 Tinggi
Tanaman
Adapun
hasil yang diperoleh dari pengamatan tinggi tanaman bawang merah (Allium cepa) adalah sebagai berikut :
Tabel.
1 Tinggi Tanaman
|
NO |
KELOMPOK |
TINGGI TANAMAN |
RATA-RATA |
||
|
1 |
2 |
3 |
|||
|
1 |
20 |
27 |
34 |
35,67 |
32,22 |
|
2 |
21 |
18,83 |
21,66 |
26,5 |
22,33 |
|
3 |
22 |
29,5 |
33,9 |
36,5 |
33,33 |
|
4 |
23 |
24,6 |
29 |
32,58 |
28,72 |
|
5 |
24 |
7,16 |
19,91 |
22,5 |
16,52 |
|
6 |
25 |
33,83 |
38,93 |
42,83 |
38,53 |
|
7 |
26 |
30,5 |
32,5 |
36,3 |
33,1 |
|
8 |
27 |
25,83 |
32 |
32,5 |
30,11 |
|
9 |
28 |
24,81 |
31,0 |
34,96 |
30,25 |
|
10 |
29 |
24,96 |
29,58 |
31,33 |
28,62 |
|
11 |
30 |
25,66 |
29,45 |
32,6 |
29,23 |
|
12 |
31 |
24,66 |
26,83 |
29,33 |
26,94 |
|
RATA-RATA |
|
|
|
29,158 |
|
Akar
menyerap air dan unsur hara ke daun menjadi karbohidrat yang akan
ditranslokasikan ke bagian tanaman sebagai cadangan makanan dan energi yang
diperlukan sel untuk melakukan aktivitas seperti pembelahan dan pembesaran sel
yang berakibat pada pertambahan tinggi tanaman. Hakim et al. (2016)
menyatakan bahwa terjadinya pertumbuhan tinggi tanaman karena adanya peristiwa
pembelahan dan perpanjangan sel.
Kascing
mengandung asam humat dimana merupakan hasil akhir proses dekomposisi bahan
organik yang terdiri dari zat organik, disamping itu juga memiliki struktur
molekul komplek yang mengandung gugus aktif sehingga mampu untuk menstimulasi
dan mengaktifkan proses biologi pada organisme hidup dalam tanah. Sehingga
tanaman bawang merah mampu menyerap nutrisi dalam tanah dan merubahnya menjadi
bahan dalam bentuk tersedia bagi tanaman melalui proses fotosintesis.
Pupuk
kascing juga dapat berperan memperbaiki sifat kimia tanah seperti meningkatkan
pH tanah, rasio C/N, KTK dan menyediakan unsur hara makro maupun mikro yang
dibutuhkan tanaman bawang merah. Kascing berperan terhadap sejumlah reaksi
kimia di dalam tanah yang meningkatan KTK sehingga berdampak pada kesuburan
tanah (Mulat, 2015). Kascing juga mengandung berbagai bahan yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan tanaman seperti hormon giberilin, sitokinin dan auxin
(Tambunan et al., 2014). Menurut Harjadi (2009) auksin dapat memacu
perpanjangan sel sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan batang. Menurut Bey et
al. (2016) giberelin dapat meningkatkan pertambahan tinggi tanaman dan
merangsang pemanjangan batang dan pembelahan sel.
4.1.2 Jumlah
Daun
Adapun hasil yang
diperoleh dari pengamatan jumlah daun pada Bawang merah (Allium cepa) yaitu sebagai
berikut :
Tabel
2. Jumlah Daun
|
NO |
KELOMPOK |
JUMLAH DAUN |
RATA-RATA |
||
|
1 |
2 |
3 |
|||
|
1 |
20 |
16 |
22,4 |
26,8 |
21,33 |
|
2 |
21 |
7,5 |
21,66 |
27,66 |
18,94 |
|
3 |
22 |
18,8 |
31,3 |
36,3 |
28,8 |
|
4 |
23 |
14,3 |
15,83 |
21,83 |
17,32 |
|
5 |
24 |
4,91 |
14,33 |
18,5 |
12,58 |
|
6 |
25 |
27 |
38,5 |
52,5 |
39,33 |
|
7 |
26 |
18,83 |
25,5 |
28,6 |
24,31 |
|
8 |
27 |
17,67 |
23,33 |
25,16 |
22,53 |
|
9 |
28 |
17,0 |
22,5 |
27,8 |
22,43 |
|
10 |
29 |
22,83 |
28,83 |
37,66 |
29,77 |
|
11 |
30 |
19 |
27,5 |
32,5 |
26,33 |
|
12 |
31 |
22,5 |
30 |
35,16 |
29,22 |
|
RATA-RATA |
|
|
|
24,407 |
|
Dari hasil pengamatan jumlah daun tanaman bawang merah (Allium cepa L.) diperoleh hasil yaitu pada kelompok 20 jumlah daun rata – rata nya sebesar 21,33, untuk kelompok 21 jumlah rata – rata nya adalah 18,94, untuk kelompok 22 jumlah rata – rata nya adalah 28,8, untuk kelompok 23 jumlah rata – rata nya adalah 17,32, untuk kelompok 24 jumlah rata – rata nya adalah 12,58, untuk kelompok 25 jumlah rata – rata nya adalah 39,33, untuk kelompok 26 jumlah rata – rata nya adalah 24,31, untuk kelompok 27 jumlah rata – rata nya adalah 22,53, untuk kelompok 28 jumlah rata – rata nya adalah 22,43, untuk kelompok 29 jumlah rata – rata nya adalah 29,77, untuk kelompok 30 jumlah rata – rata nya adalah 26,33, untuk kelompok 31 jumlah rata – rata nya adalah 29,22. Untuk jumlah keseluruhan daun rata – rata yaitu 24,407.
Riandi
et al. (2016) bahwa salah satu yang menyebabkan bertambahnya jumlah daun
pada tanaman adalah adanya kecukupan suplay hara ke dalam tanaman
tersebut.
Unsur
hara yang tersedia dari pemberian pupuk kascing meningkatkan laju fotosintesis.
Peningkatan laju fotosintesis akan meningkatkan fotosintat dihasilkan sebagai
bahan pembentukan organ tanaman. Prawiranata et al. (2015) menyatakan
bahwa peningkatan laju fotosintesis akan diiringi dengan peningkatan jumlah
daun.
Pemberian
pupuk kascing tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata antar perlakuan pada
tanaman bawang merah. Hal ini diduga karena unsur hara yang tersedia di dalam
tanah telah tercukupi untuk pertumbuhan tanaman bawang merah khususnya pada
bagian jumlah daun dan dengan penambahan kascing sebagai bahan organik tidak
memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah daun per rumpun.
Penambahan
bahan organik berupa pupuk kascing dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara
seperti unsur N yang membantu dalam meningkatkan klorofil daun sehingga
meningkatkan laju fotosintesis dan menghasilkan fotosintat yang lebih banyak
untuk ditranslokasikan ke organ penyimpan termasuk umbi dan akhirnya
berpengaruh terhadap pembentukan umbi bawang merah. Napitupulu dan Winarto
(2016) menyatakan bahwa nitrogen berperan dalam meningkatkan sintesis protein
dan pembentukan klorofil daun serta meningkatkan laju fotosintesis dan hasil
fotosintat. Hasil penelititan Ihsan et al. (2016) menyatakan bahwa untuk
mendapatkan pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah (Allium
ascalonicum L.) yang baik disarankan menggunakan pupuk kascing dengan dosis
15 ton/Ha, Pada parameter berat umbi segar per rumpun menghasilkan produksi
tertinggi mencapai 46,70 g.
Pupuk yang diberikan pada tanaman akan memberikan pengaruh yang baik jika diiringi dengan pengaturan jarak tanam yang tepat. Menurut Rahayu dan Berlian (2007), jarak tanam yang terlalu rapat atau tingkat kepadatan populasi yang tinggi dapat mengakibatkan terjadinya kompetisi antar tanaman terhadap faktor tumbuh seperti air, unsur hara, cahaya dan ruang tumbuh, sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Hasil penelitian Deviana et al. (2014) produksi umbi bawang merah paling tinggi dihasilkan pada jarak tanam 10 cm x 15 cm yaitu 10.68 ton/Ha.
BAB V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Bawang
merah (Allium ascalonicum L.) adalah tanaman yang termasuk dalam
famili liliceae yang berasal dari Asia Tenggara dan merupakan salah satu
komoditas hortikultura yang sering digunakan sebagai penyedap masakan. Selain
itu, bawang merah juga mengandung gizi dan senyawa enzim yang baik untuk
kesehatan manusia. Kascing termasuk ke dalam bahan organik yang dapat digunakan
sebagai pupuk untuk meningkatkan produksi tanaman. Kascing mengandung unsur
hara yang lengkap, baik unsur makro maupun mikro serta mengandung hormon
giberelin, sitokinin dan auksin yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Pemberian
kascing sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
5.2 Saran
Agar kiranya pada praktikum mendatang, praktikan bisa lebih baik lagi kedepannya dan semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
DAFTAR
PUSTAKA
Agus Lina, 2015. Pedoman
Bertanam Bawang, Kanisius, Yogyakarta. Hlm 18. BPPT, 2007 . Teknologi
budidaya Tanaman Pangan.
Bangun,
F. 2016. Analisis Pertumbuhan dan
produksi Beberapa varietas Bawang merah terhadap Pemberian Pupuk Organik dan
anorganik. Universitas sumatera Utara.medan.
Bangun, E., M. Nur, H.I., F.H. Silalahi, dan J. Ali. 2016. Pengkajian Teknologi Pemupukan Bawang
Merah di Sumatera Utara. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Spesifik
Lokasi Menuju Desentralisasi Pembangunan Pertanian. 13-14 Maret 2000.
Medan. Hlm. 338-342.
Bey,
Y., W. Syafii dan Sutrisna. 2016. Pengaruh
pemberian giberelin (ga3) dan air kelapa terhadap perkecambahan biji anggrek
bulan (Phalaenopsis ambilis BL.)
secara in vitro. Jurnal Biogenesis. 2(2): 41-46.
Ernawati,
R., I. D. Hasanah dan Agusni. 2015. Pengaruh
pemberian pupuk NPK multiorganik pada tiga kultivar cabai merah. Prosiding
Konggres Nasional HITI VII. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. 793-800.
Erythrina. 2017. Perbenihan
dan budidaya bawang merah. Balai besar pengkajian dan pengembangan
teknologi pertanian (BBP2TP). Bogor.
Hakim,
N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, Sutopo, G. N., M. R. Saul, M. A. Diha, G. B.
Hong dan H. Bailey. 2016. Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Handayani
SA. 2014. Optimalisasi Pengelolaan Lahan
untuk Sayuran Unggulan Nasional. Julianto, editor. Tabloid Sinar Tani Senin
28 April 2014 [Internet].[Waktu dan tempat pertemuan tidak diketahui]. Jakarta
(ID): Sinartani. [diunduh 2014 Nov 12].
Harjadi, S. S. 2009. Zat Pengatur Tumbuhan. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Mulat,
T. 2015. Membuat dan Memanfaatkan Kascing
Pupuk Organik Berkualitas. Agromedia. Jakarta.
Prawiranata, W.S. Harran
dan P. Tjondronegoro. 2015. Dasar-Dasar
Fisiologi Tumbuhan II. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Riandi,
O., Armaini dan E. Anom. 2016. Aplikasi
Pupuk N, P, K Dan Mineral Zeolit pada Medium Tumbuh Tanaman Rosella (Hibisccus sabdariffa, L). Skripsi
(Tidak dipublikasikan). Universitas Riau. Pekanbaru.
Rukmana, R.,(2017), Bawang
Merah Dari Biji, Penerbit Aneka Ilmu, Semarang.
Sembiring,
N., B.S.J. Damanik dan J. Ginting. 2017.
Tanggap pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.) varietas kuning terhadap pemberian kompos
kascing dan pupuk NPK. Jurnal
Online Agroteknologi. 2(1): 266-278.
Sudirja,
R., M. A. Solihin dan S. Rosniawaty. 2005.
Pengaruh Kompos Kulit Buah Kakao dan Kascing terhadap Perbaikan Beberapa
Sifat Kimia Fluventic Eutruddepts. Lembaga Penelitian Universitas
Padjajaran, Jatinangor.
Sumarni,
N. dan Hidayat A. 2015. Budidaya Bawang
merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Jakarta Selatan.
Sutarya
R dan Grubben G. 2015. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. Gadjah
Mada University Press (ID). Prosea Indonesia – Balai Penelitian Hortikultura
Lembang.
Tambunan,
W.A., R. Sipayung dan F.E. Sitepu. 2014. Pertumbuhan
dan produksi bawang merah (Allium
ascalonicum L.) dengan pemberian pupuk hayati pada berbagai media
tanam. Jurnal Online Agroteknologi. 2(2): 825-836.
Wibowo ,S. 2015. Budidaya Bawang Merah. Penebar Swadaya. Jakarta. 212 Hlm.
Komentar